Buruh Dunia Digital: Eksploitasi Tiada Henti (Resensi Buku) – Bagian 3/3

Buruh digital dan neoliberalisme merupakan pasangan yang tak terpisahkan. Di bagian kedua bukunya, Fuchs mengelaborasi hubungan erat antara kebudayaan (pop culture) dan ekonomi. Budaya populer, dikaitkan dengan kondisi kontemporer, menyajikan internet dan media sosial sebagai sarana relasi sosial, di mana para penggunanya berperan sebagai prosumer (produsen sekaligus konsumen). Konsumsi media yang eksesif menajdi bagian tak terpisahkan dari logika relasi produksi kapitalisme di zaman digital. Dalam konteks ini, Fuchs mendeskripsikan gagasan Dallas Smythe dan “buruh penonton” (audience labour) sebagai proses komodifikasi penonton itu sendiri. Komodifikasi sendiri adalah suatu proses transformasi atau mengubah suatu objek menjadi objek yang memiliki nilai tukar. Artinya, penonton atau orang-orang yang bermain media (konsumen media) menjadi memiliki nilai tukar. Mereka adalah komoditi. Di sinilah batas antara bekerja dan bermain, produsen dan konsumen, lumer; melebur menjadi kategori yang sulit dipisahkan. [1]

Kekaburan batas ini menjadikan Fuchs yakin bahwa pertanyaan tentang zaman atau masyarakat yang kita hidupi di era kontemporer ini, apakah sekarang zaman “masyarakat informasi aatau kapitalisme” dijawab oleh Fuchs tanpa membedakan kategorisasi tersebut. Bagi Fuchs, “masyarakat adalah masyarakat informasi berdasarkan keadaan daya produksinya (production forces), sedangkan masyarakat kontemporer adalah masyarakat kapitalis dalam relasi produksinya (relations of production). Artinya sebagai masyarakat kontemporer, kita adalah masyarakat informasi yang memiliki daya produksi berdasarkan kapital yang kita “miliki” (yakni akses kepada internet dan dunia digital), dan dengan itu relasi kita dengan orang lain atau objek lain merupakan relasi produksi, karena dalam relasi itu kita memproduksi informasi-informasi yang memiliki nilai tukar (sebagai komoditi). Sejak relasi kita adalah relasi antar-komoditi, maka relasi produksi yang kita lakukan sudah selalu merupakan relasi kapitalistik.

 

Marx dan Media

Namun Fuchs sendiri menyadari bahwa penggunaan media digital itu selalu kompleks. Ia mengklaim bahwa media sosial dan media-media lain bukanlah generator protes atau sesuatu yang memancing tumbuhnya protes. Baginya, media sosial justru dapat menghambat/menumpulkan prote di satu sisi, meskipun di sisi lain juga dapat mengamplifikasi efek-efek yang ditimbulkannya. Alih-alih mengglorifikasi teknologi, Fuchs – sebagaimana Marx – berpendapat agar seseorang tidak hidup dalam kesadaran palsu tentang masyarakat terkoneksi digital, melainkan menyadari dan melakukan revolusi dengan pemahaman bahwa setiap revolusi selalu membutuhkan basis material. Basis material ini merupakan kontradiksi dari ekonomi, politik, ideologi, dan hal-hal lain yang mewarnai masyarakat. Dengan menyadari basis material ini, orang dapat menjadikannya sebagai wawasan subjektif yang dapat memotivasi adanya revolusi.

Bagi Fuchs, teori komunikasi marxis harus dapat membuktikan bahwa komunikasi adalah suatu praktik material, bagaimana buruh dan bahasa dibangun secara mutual di atasnya serta bagaimana komunikasi merupakan suatu instansi dialektis di dalam konstruksi makna dalam setiap aktivitas sosial. Hubungan antara komunikasi dan marxisme adalah hubungan yang sangat relevan, mengingat komunikasi selalu tertanam (embedded) dalam struktur ketidaksetaraan dalam kelas-kelas sosial di masyarakat. Namun mempraktikkan marxisme itu soal lain. Kalangan akademisi marxis tidak lagi mendapat tempat di dunia kontemporer, bersamaan dengan digerusnya pemikiran-pemikiran marxis di universitas-universitas, serta upaya menggusur marxisme dengan post-modernisme. Di sisi lain, Marx sendiri dikatakan tidak pernah mengomentari media dalam jejaring (networked media), sebagaimana dikatakan Marshall McLuhan (2001). Namun kritik McLuhan ini dibantah para cendekiawan marxis yang mengatakan bahwa Marx pernah mengemukakan mengenai telegraf sebagai contoh deskripsinya tentang jejaring informasi global, di mana “setiap orang berusaha menginformasikan diriya sendiri” kepada orang lain dan “koneksi selalu dibuat” (Marx, 1857). Deskripsi tentang jejaring informasi global melalui telegraf ini dapat menjadi antisipasi datangnya internet ratusan tahun kemudian, sehingga Marx juga sangat relevan dalam studi komunikasi.

Christian Fuchs dan Nick Dyer-Witheford (2013) mengelaborasi sepuluh konsep penting dalam marxisme guna memahami internet dan media sosial:

  1. Dialektika, dengan pertanyaan utama “bagaimana penciptaan, pengembangan dan kontradiksi Internet dapat dipahami dalam perspektif historis yang diinformasikan secara dialektik?
  2. Kapitalisme, dengan pertanyaan utama “Apa sebenarnya peran Internet dalam kapitalisme? Bagaimana peran ini dapat diteorikan dan diukur secara empiris? Model akumulasi modal berbasis Internet mana yang ada?
  3. Komoditi/komodifikasi, dengan pertanyaan utama “Bentuk komodifikasi apa yang kita temukan di Internet dan bagaimana cara kerjanya?”
  4. Nilai surplus, eksploitasi, alienasi, kelas; dengan pertanyaan utama “Apa saja bentuk penciptaan nilai lebih yang ada di Internet? Bagaimana mereka bekerja? Apa yang dipikirkan pengguna tentang mereka?”
  5. Globalisasi, dengan pertanyaan utama “Bagaimana internet berinteraksi dengan proses globalisasi?”
  6. Ideologi/kritik ideologi, dengan pertanyaan utama “Mitos dan ideologi apa yang ada tentang Internet? Bagaimana mereka dapat ditemukan, dianalisis dan dikritik?”
  7. Pertentangan/perjuangan kelas, dengan pertanyaan utama “Apa peran Internet dalam perjuangan kelas? Apa potensi, realitas, dan batasan perjuangan untuk Internet alternatif?”
  8. Kepemilikan bersama (commons), dengan pertanyaan utama “Apa itu kepemilikan Bersama bagi Internet? Bagaimana cara kerja komodifikasi kepemilikan bersama atas Internet? Model mana untuk menguatkan kepemilikan bersama atas Internet yang ada?”
  9. Ruang publik (public sphere), dengan pertanyaan utama “Apa potensi dan batasan Internet untuk mewujudkan ruang publik?”
  10. Komunisme, dengan pertanyaan utama “Apa yang dimaksud dengan Internet berbasis kepemilikan bersama dalam masyarakat berbasis kepemilikan bersama? Bentuk dan model terkecil dari Internet berbasis kepemilikan bersama mana yang ada? Bagaimana cara membangun Internet berbasis kepemilikan Bersama dan memperkuat perjuangan terkait hal itu?” [2]

Sebagai penutup, Fuchs menandaskan pentingnya hal-hal tersebut di atas dioperasikan dalam praxis dalam studi mengenai ekonomi budaya seperti dalam isu-isu mengenai pendivisian tenaga kerja global dalam industri ini, kondisi kerja yang terlibat dalam pendivisian tenaga kerja digital internasional/international division of digital labour (IDDL), tenaga kerja budaya tidak tetap, masalah tenaga kerja digital “gratis” dan tantangan untuk membuat teori penciptaan nilai tenaga kerja digital, tantangan prosumsi (konsumsi produktif/productive consumption) dan “playbour” (play labour) bagi kerja-kerja yang berhubungan dengan pengetahuan, perspektif kebijakan tentang kerja virtual (peran serikat pekerja, pengawas dan proyek masyarakat sipil seperti MakeIT Fair, masalah kebijakan dan tantangan untuk regulasi kerja virtual, dan lain-lain.) dan identitas pekerjaan dalam kerja-kerja yang berhubungan dengan pengetahuan.

Dengan demikian, Marx, kapitalisme, tenaga kerja, dan tenaga digital menjadi lebih penting dalam studi media dan komunikasi, meskipun arus utama masih didominasi oleh penelitian-penelitian yang sifatnya administrative. Secara praxis, hal ini akan mendukung perjuangan keadilan terhadap kaum buruh digital, kerah biru maupun kerah putih. Selamat hari Buruh 1 Mei 2019. May Day! May Day! May Day! kaum Buruh di seluruh dunia, bersatulah! [Aditya Permana].

 

Referensi

[1] https://marxandphilosophy.org.uk/reviews/8061_digital-labour-and-karl-marx-review-by-vladimir-rizov/

[2] http://fuchs.uti.at/books/digital-labour-and-karl-marx/

 

Notes: isi merupakan saduran dari berbagai referensi yang disebutkan.