Dosen HI Binus: Ada Tiga Agenda Besar Kunjungan Raja Salman

Raja Salman. Sumber: wartaekonomi.co.id

 

Pada 1-9 Maret 2017, Raja Salman bin Abdul Aziz dari Kerajaan Arab Saudi melakukan kunjungan ke Indonesia. Dalam wawancara dengan Warta Ekonomi, salah seorang dosen Hubungan Internasional Universitas Bina Nusantara, Tia Mariatul Kibtiah, mengungkapkan ada tiga agenda besar kedatangan Raja Salman ke Indonesia.

Tia memaparkan kunjungan raja Arab Saudi kali ini adalah pertama kalinya setelah tahun 1970 silam dan membawa agenda politik besar yakni terkait moratorium TKI, penambahan kuota haji, dan investasi kerjasama minyak bumi.

“Ini ada beberapa tujuan yaitu tentang TKI/TKW sudah ada moratorium atau pemutusan kerjasama pada tahun 2011 kemudian disambung lagi pada tahun 2014 tapi mereka mendengar kabar bahwa tahun 2017 Jokowi sudah pindah haluan kebijakan Luar Negerinya dan akan diputus kembali hubungan kerjasama pengadaan atau pengiriman TKI/TKW pada tahun 2017 sementara Saudi sangat butuh, karena tenaga kerja dari Indonesia dikenal manut dan dari kesejahteraan tidak menuntut banyak ini yang jadi kekhawatiran pertama” kata Tia di Jakarta, Senin (27/2/2017).

Tia menambahkan kekhawatiran kedua adalah masalah kuota haji dimana jamaah haji asal Indonesia sebanyak 221.000 orang pertahun ini cukup signifikan menambah devisa bagi Arab Saudi.

“Yang ketiga ini ada isu bahwa sekarang kebijakan Jokowi terhadap timur tengah itu bukan ke arah saudi lagi tapi ada kerjasama kontrak oil company dengan Iran, jadi selama ini koalisinya Saudi itu adalah Amerika, dan Eropa, nah oil company dari Eropa sudah melakukan approach dengan pemerintah dari zaman Presiden SBY, tapi semenjak Jokowi ini deal oil company justru kepada Iran, ini mengagetkan,” pungkasnya.

Tia mengatakan sejak pemerintahan Indonesia dipegang oleh Presiden Jokowi, Indonesia tidak lagi menjadikan Arab Saudi sebagai barometer utama kerjasama luar negeri sehingga adanya suatu kekhawatiran bagi kerajaan Arab Saudi apabila Indonesia berpaling dari mereka.

“Saya berpendapat itu hanya kekhawatiran Saudi karena akhir-akhir ini di masa pemerintah Jokowi sudah tidak menjadikan Saudi prioritas, terlihat sektor infrastruktur investornya dari China kemudian oil company tender dari Iran ini sangat berbahaya sekali. Dan kalo Indonesia sudah lepas dari hegemoni US, Saudi dan Eropa kemudian berbalik menjadi dekat dengan Russia, China dan Iran ini tentu akan berimbas pada kuota haji, pengiriman TKI TKW, ini sangat berbahaya untuk Saudi. Makanya tidak tanggung-tanggung, mereka membawa pasukan sebanyak 1500 orang untuk meredam gejolak di Indonesia” tutupnya.

Wawancara Tia oleh Warta Ekonomi dapat dilihat pada tautan berikut:

http://wartaekonomi.co.id/read132165/indonesia-mulai-berpaling-dari-saudi-raja-salman-pun-turun-gunung.html