Latar Belakang Opini

Salah seorang dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Bina Nusantara (HI BINUS), Wendy Andhika Prajuli, menulis opini berjudul “Mengapa Cendekiawan Indonesia Jarang Dikutip?”. Tulisan yang terbit pada 20 Maret 2025 ini membahas rendahnya dampak publikasi ilmiah Indonesia di tingkat global.

Menurut Wendy, jumlah publikasi akademik memang meningkat. Namun, pengaruhnya masih terbatas karena banyak karya belum memberikan kontribusi baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Rizal Sukma
Duta Besar Indonesia untuk Britania Raya, Irlandia dan International Maritime Organization
Cendekiawan Indonesia

Konsumerisme Pengetahuan

Wendy menilai bahwa salah satu penyebab utama masalah ini adalah fenomena “konsumerisme pengetahuan”. Istilah ini merujuk pada kecenderungan akademisi Indonesia untuk terus memakai teori dan konsep dari luar negeri tanpa mengembangkan pendekatan yang berakar pada konteks lokal. Rizal Sukma Duta Besar Indonesia untuk Britania Raya, Irlandia dan International Maritime Organization

Selain itu, Wendy menjelaskan bahwa karya akademik sering kali hanya mereproduksi teori-teori Barat. Akibatnya, publikasi tersebut tidak menawarkan pembaruan yang dapat mengubah arah perkembangan suatu bidang studi.

Faktor yang Memperkuat Masalah

Fenomena ini, menurutnya, tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang turut memperkuatnya, seperti:

  • budaya akademik yang masih lemah,

  • beban administratif yang tinggi,

  • dukungan riset yang terbatas, dan

  • intervensi negara dalam pendidikan tinggi.

Karena itu, eksplorasi kajian baru dalam studi Hubungan Internasional di Indonesia berjalan lambat. Banyak akademisi juga masih bergantung pada konsep-konsep mapan seperti soft power, hedging, atau securitization.

Dampak terhadap Posisi Akademisi Indonesia

Akibat kondisi tersebut, cendekiawan Indonesia jarang terlibat dalam perdebatan akademik yang kritis. Padahal, perdebatan merupakan fondasi penting bagi lahirnya inovasi.

Situasi ini membuat Indonesia lebih sering menjadi objek riset, bukan produsen pengetahuan yang berpengaruh secara global. Dengan demikian, kontribusi ilmiah Indonesia masih sulit mendapatkan sitasi dan pengakuan internasional.

Harapan ke Depan

Meskipun begitu, Wendy tetap melihat adanya peluang. Ia mencatat bahwa sebagian kecil akademisi mulai mencoba menggabungkan teori global dengan pengalaman lokal. Langkah ini, menurutnya, sangat penting karena dapat membuka jalan menuju budaya akademik yang lebih mandiri.

“Transformasi budaya akademik diperlukan agar cendekiawan Indonesia dapat menjadi rujukan utama dalam menjelaskan dinamika sosial-politik, baik domestik maupun global,” tegas Wendy.

Penutup

Melalui opininya, Wendy mengajak akademisi Indonesia untuk lebih berani berinovasi. Dengan mengembangkan pengetahuan yang berakar pada konteks lokal, Indonesia dapat meningkatkan posisi dalam percakapan ilmiah internasional.

Pandangan Dosen HI BINUS tentang solusi untuk meningkatkan sitasi cendekiawan Indonesia secara global.