Perayaan Imlek sebagai Sarana Soft Power dalam Perspektif Hubungan Internasional
Imlek dan Konsep Soft Power Budaya
Perayaan Hari Raya Imlek tidak hanya merepresentasikan tradisi budaya masyarakat Tionghoa, tetapi juga mencerminkan praktik soft power dalam kehidupan sosial modern. Dalam Kajian Hubungan Internasional, soft power dipahami sebagai kemampuan aktor baik negara maupun aktor non-negara untuk membentuk preferensi pihak lain melalui daya tarik budaya, nilai, dan norma. Berbeda dari hard power yang mengandalkan paksaan material, soft power bekerja melalui legitimasi normatif dan penerimaan sosial. Konsep ini dikembangkan oleh Joseph Nye yang menekankan bahwa pengaruh paling efektif sering kali bersumber dari nilai yang dianggap sah dan relevan oleh pihak lain.
Imlek sebagai Praktik Soft Power Budaya
Perayaan Hari Raya Imlek dapat dianalisis sebagai praktik soft power budaya karena berfungsi sebagai medium difusi nilai (cultural diffusion). Nilai-nilai seperti harmoni sosial, solidaritas keluar dan optimisme kolektif disebarkan melalui simbol dan interaksi sosial. Proses ini membentuk persepsi positif secara non-koersif dan berkontribusi pada konstruksi identitas budaya yang dapat diterima lintas kelompok.
Pembentukan Persepsi dan Legitimasi Sosial
Dalam konteks Indonesia, Imlek menunjukkan bagaimana soft power beroperasi melalui mekanisme legitimasi sosial. Kehadiran perayaan ini di ruang publik melalui pertunjukan budaya dan partisipasi lintas komunitas mencerminkan proses normalisasi budaya Tionghoa dalam tatanan sosial yang lebih luas. Penerimaan tersebut tidak dibangun melalui tekanan institusional, melainkan melalui interaksi simbolik yang menghasilkan kepercayaan dan afinitas sosial.
Relevansi Empiris bagi Pembelajaran Hubungan Internasional
Analisis Imlek sebagai soft power memiliki relevansi langsung dengan pendekatan experiential learning dalam Program Enrichment di BINUS University. Melalui pengamatan empiris terhadap praktik budaya, mahasiswa dapat memahami bahwa konsep Hubungan Internasional tidak hanya beroperasi di level negara dan diplomasi formal, tetapi juga di level sosial melalui aktor komunitas. Imlek menjadi studi kasus mikro yang merefleksikan dinamika makro soft power dalam sistem internasional.
Ditulis oleh: Adrian Fausta Priyambada

Comments :