Ramadan dalam Diplomasi Global

Ramadan dalam diplomasi global bukan hanya tentang praktik keagamaan. Lebih dari itu, bulan suci ini menjadi ruang strategis bagi negara untuk membangun citra dan pengaruh. Di tengah dunia yang semakin terhubung, Ramadan berkembang menjadi momen global yang mepengaruhi dinamika sosial dan politik antar negara. Oleh karena itu, Ramadan tidak lagi dipahami semata sebagai ruang spiritual.
Bagi negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, Turkiye, dan Uni Emirat Arab, Ramadan sering dimanfaatkan sebagai sarana diplomasi publik. Misalnya, melalui bantuan kemanusiaan lintas negara yang meningkat selama Ramadan, penyelenggaraan program buka puasa bersama komunitas internasional, serta kampanye solidaritas global menjadi bagian dari strategi soft power yang memperkuat posisi mereka di mata dunia.
Sebagai contoh, Turkiye melalui Turkish Cooperation and Coordination Agency (TIKA) secara rutin menyalurkan bantuan Ramadan ke berbagai kawasan konflik dan negara berkembang. Uni Emirat Arab juga menginisiasi kampanye kemampuan global selama Ramadan sebagai bagian dari diplomasi filantropi negara. Sementara itu, Indonesia kerap memanfaatkan momentum Ramadan dalam diplomasi publik melalui kegiatan sosial dan penguatan narasi Islam moderat di forum internasional.
Praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa Ramadan dalam diplomasi global bukan sekadar simbol religius, tetapi bagian dari strategi membangun citra dan pengaruh internasional. Dalam kerangka teori hubungan internasional, pendekatan ini dapat dipahami melalui konsep soft power diperkenalkan oleh Joseph Nye, yaitu kemampuannegara mempengaruhi aktor lain melalui daya tarik nilai, budaya, dan legitimasi moral.
Membaca Ramadan dalam Diplomasi Global dari Perspektif Mahasiswa HI BINUS
Pemahaman mengenai soft power tidak berhenti di ruang kelas. Melalui Enrichment Program, mahasiswa memiliki kesempatan untuk melihat bagaimana nilai dan citra negara dibangun melalui praktik kelembagaan sehari-hari.
“Sebagai mahasiswa Hubungan Internasional BINUS University, saya melihat bahwa isu-isu global momentum seperti Ramadan menunjukkan bagaimana pendekatan kultural dapat menjadi bagian dari diplomasi negara,” ujar Laraswitha Alayya Mokodongan, mahasiswi HI BINUS yang tengah menjalani Enrichment Internship di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana dinamika global. Ia menilai bahwa persepsi dan nilai sering kali berperan dalam hubungan internasional. Ramadan menjadi contoh bagaimana praktik keagamaan dapat bersinggungan dengan kepentingan negara dalam membangun hubungan internasional yang lebih inklusif.
Pada akhirnya, Ramadan dalam diplomasi global mengajarkan bahwa diplomasi tidak selalu hadir dalam bentuk negosiasi resmi. Justru, nilai, empati, dan pendekatan kultural sering kali memainkan peran penting. Bagi mahasiswa Hubungan Internasional, pengalaman enrichment menjadi ruang untuk menghubungkan konsep dengan praktik nyata.
Selain itu, Ramadan dapat menjadi momentum refleksi. Apakah kita cukup peka membaca dimensi global di balik praktik keagamaan? Apakah kita mampu melihat bahwa nilai dan budaya juga merupakan instrumen diplomasi yang kuat?
Bagi mahasiswa HI BINUS, jawabannya terletak pada bagaimana kesempatan belajar termasuk melalui Enrichment Program dimanfaatkan secara optimal. Ramadan bisa menjadi titik refleksi untuk memahami bahwa diplomasi bukan hanya soal negosiasi formal. Ia juga tentang citra, empati, dan pengaruh kultural.
Penulis: Albyanti Maria Devi
Comments :