Thumbnail, Hari raya ramadhan dan imlek secara bersamaan.

Dari Imlek Hingga Ramadan: Belajar Toleransi dan Diplomasi Publik melalui Tradisi Global

Dalam dinamika Hubungan Internasional modern, kekuatan sebuah negara tidak lagi hanya diukur dari aspek militer maupun ekonomi (Hard Power). Saat ini, kemampuan sebuah negara untuk memikat masyarakat global melalui kebudayaan memegang peranan yang sangat krusial. Konsep ini dikenal sebagai Soft Power.

Istilah tersebut dipopulerkan oleh Joseph S. Nye, pakar politik dari Harvard University. Nye mendefinisikan soft power sebagai kemampuan untuk mendapatkan keinginan melalui daya tarik budaya, nilai politik, dan kebijakan luar negeri, alih-alih melalui paksaan (Nye, 2004).

Teori ini terlihat relevan ketika kita mengamati dua fenomena budaya besar dunia, yaitu perayaan Tahun Baru Imlek dan bulan suci Ramadan. Bagi mahasiswa Hubungan Internasional BINUS University, kedua momen ini bukan sekadar perayaan, melainkan materi krusial untuk belajar diplomasi melalui tradisi.

Festival Global Sebagai Instrumen Diplomasi

Mengapa tradisi budaya bisa menjadi kekuatan diplomasi? Jawabannya terletak pada bagaimana negara memanfaatkan momen tersebut untuk memperkuat pengaruhnya secara humanis.

Pemerintah Tiongkok, misalnya, secara konsisten menggunakan Imlek (Spring Festival) sebagai instrumen diplomasi budaya utama. Momentum ini semakin diperkuat dengan pengakuan UNESCO terhadap festival tersebut sebagai Warisan Budaya Takbenda. Seperti yang dilaporkan oleh China Daily, Duta Besar Tiongkok untuk UNESCO, Kang Yi, menegaskan dampak pengakuan ini. Ia menyebut Spring Festival akan menjadi “harta bersama umat manusia” (shared treasure of humanity). Langkah ini dinilai tidak hanya mempromosikan tradisi dan nilai budaya, tetapi juga mendorong pelestarian festival-festival tradisional lainnya di seluruh dunia (Yang, 2024).

Senada dengan hal itu, negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim memanfaatkan momen Ramadan untuk memperkuat diplomasi publik mereka. Riset dari Brookings Institution menyoroti fenomena “Islam sebagai instrumen kenegaraan” (Islam as statecraft). Dalam konsep ini, negara menggunakan agama dan tradisi seperti Ramadan dalam kebijakan luar negeri. Dengan itu, bantuan kemanusiaan dan dialog lintas agama selama bulan suci digunakan sebagai alat diplomasi dengan bertujuan untuk memproyeksikan pengaruh geopolitik dan membangun citra positif di kancah global (Mandaville & Hamid, 2018).

Kedua contoh nyata di atas menegaskan bahwa Imlek dan Ramadan telah berhasil bertransformasi dari sekadar ritual tradisi menjadi instrumen soft power yang efektif di kancah global.

Relevansi Keilmuan HI di Dunia Profesional

Pemahaman mendalam mengenai fenomena diplomasi budaya tersebut menggambarkan bahwa ilmu Hubungan Internasional memiliki cakupan yang sangat luas. Mahasiswa HI tidak hanya belajar tentang diplomasi dalam lingkup pemerintahan saja. Sebaliknya, mereka juga dibekali teori Kecerdasan Budaya (Cultural Intelligence). 

Christopher Earley dan Soon Ang, pencetus teori ini, menjelaskan Cultural Intelligence sebagai kemampuan vital seseorang untuk berfungsi secara efektif dalam lingkungan yang beragam secara budaya. Mengapa hal ini penting bagi para profesional global? Jika sebuah organisasi bersifat internasional, peluang bagi personel dari budaya berbeda untuk bekerja sama secara efektif akan menunjukkan manfaat terukur dalam kinerja, kepuasan karyawan, dan hasil akhir perusahaan.

Mengutip Forbes, Ang menyatakan bahwa kecerdasan budaya tinggi berkaitan dengan berbagai capaian seorang individu. Contohnya adalah jaringan yang lebih beragam dan peningkatan kinerja. Selain itu, hal ini berdampak pada hasil negosiasi dan keputusan yang lebih baik dalam situasi lintas budaya (Forbes Coaches Council, 2019).

Membangun Profesional dengan Kecerdasan Budaya

Namun, teori mengenai kecerdasan budaya tidak akan efektif jika hanya dipelajari di dalam kelas. Mahasiswa membutuhkan wadah untuk mempraktikkan teori tersebut secara nyata sebelum lulus. Di sinilah peran vital program Enrichment di BINUS University.

Melalui program ini, mahasiswa memiliki kesempatan untuk menguji kemampuan adaptasi mereka di dunia profesional. Sebagai contoh, mahasiswa yang menjalani jalur Internship Track dituntut untuk menerapkan kecerdasan budaya di lingkungan kerja sehari-hari. Mereka belajar beradaptasi dengan ritme produktivitas saat kolega berpuasa. Di sisi lain, mereka juga memahami etika bisnis khusus (business etiquette) saat perayaan Imlek. Pengalaman interaksi langsung ini sangat efektif mengasah kepekaan sosial yang dicari perusahaan global.

Pentingnya pengalaman nyata ini ditekankan oleh Mas Rhevy, Dosen Jurusan Hubungan Internasional BINUS University. Mas Rhevy menjelaskan bahwa Enrichment Program dirancang untuk menjembatani mahasiswa dengan dunia profesional.

“Program Enrichment memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk terjun langsung ke dunia industri, pemerintahan, maupun organisasi internasional. Pengalaman ini memberikan wawasan praktis serta memberikan pengalaman internasional yang berharga” ungkap Mas Rhevy.

Dengan bekal pengalaman tersebut, mahasiswa HI BINUS diharapkan siap tampil sebagai profesional yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara kultural dalam menghadapi dinamika kerja di masa depan.

 

Ditulis oleh Rachma Amellya Zaifaa Liling