JAKARTA – Jika mendengar “Diplomasi Ekonomi” apa yang terbayang di kepala kita? Mungkin jawaban yang paling banyak ditemukan adalah sekumpulan diplomat dan orang penting lainnya di meja perundingan. Padahal kenyataannya tak selalu demikian, di era modern sekarang yang sudah ter digitalisasi oleh adanya sosial media, satu kelompok  yang memiliki peran penting yaitu Generasi Muda.

Pertanyaannya, mengapa peran pemuda disini sangat penting? Jawabannya ada pada kekuatan jejak digital dan konektivitas. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi Internet di Indonesia telah menembus angka lebih dari 79,5% dengan total 221 juta jiwa, di mana dominasi terbesarnya dikuasai oleh kelompok usia muda. Menurut laporan global  Digital 2024 dari DataReportal  juga mempertegas tingginya intensitas interaksi pemuda di ruang digital. Lewat platform Instagram, TikTok, hingga LinkedIn, jutaan anak muda kini terkoneksi. Tanpa disadari Generasi Muda secara tidak langsung di balik layar sudah menjadi “diplomat informal” yang secara aktif menghubungkan potensi ekonomi lokal dengan panggung internasional.

Memahami Titik Temu Diplomasi Ekonomi dan Perdagangan Internasional

Biar makin terbayang, coba kita kenali dulu titik temu yang menjembatani Perdagangan Internasional dan Diplomasi Ekonomi. Secara sederhana, diplomasi ekonomi merupakan suatu upaya negara untuk menggunakan instrumen ekonominya seperti perjanjian perdagangan, investasi, dan agenda lainnya untuk mencapai tujuan politik luar negerinya.

Nah, di mana posisi perdagangan internasional? Perdagangan internasional bisa disebut sebagai “arena” bagi sebuah negara untuk melaksanakan tujuan atau kepentingan nasionalnya, khususnya di bidang ekonomi, di meja perundingan. Ketika suatu negara melakukan diplomasi, target nyatanya adalah untuk memperluas pasar ekspor, menarik investor asing, dan memastikan rantai pasokan global berjalan lancar.

Secara singkat, kedua hal ini merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Jika kita membandingkan era dulu dan era sekarang, diplomasi ekonomi telah berkembang secara pesat. Dulu, hal ini seolah hanya bisa dilakukan oleh state actor dan corporate, tapi sekarang non-state actor juga bisa melakukannya. Berkat adanya teknologi, di sinilah celah bagi para pemuda terbuka lebar untuk bisa berpartisipasi langsung dalam melakukan diplomasi, baik secara formal maupun informal.

Aksi Nyata Mahasiswa HI Binus di Kementerian Perdagangan lewat Enrichment 

Bagi mahasiswa HI, magang di institusi pemerintahan atau Kementerian merupakan suatu destinasi favorit. Salah satunya adalah Rahardian Abhimana Setiawan atau kerap disapa Abhi yang saat ini sedang mengambil track internship di Kementerian Perdagangan.

Selama menjalani program enrichment di Biro Hubungan Masyarakat (Humas), Abhi berperan dalam lini komunikasi kebijakan perdagangan. Tugasnya mencakup penyusunan transkrip kegiatan pimpinan hingga merangkum capaian program strategis, seperti stabilitas harga dan penguatan daya beli masyarakat. Meskipun tidak terlihat langsung dalam penentuan kebijakan, posisi ini memberikan kesempatan bagi Abhi untuk melihat dari dekat bagaimana sebuah kebijakan perdagangan dipersiapkan dan dikomunikasikan kepada publik.

Pengalaman paling berkesan bagi Abhi adalah saat berkesempatan mendampingi pimpinan dalam rapat bersama perwakilan kedutaan negara-negara Asia Tengah, seperti Uzbekistan dan Kyrgyzstan. Pertemuan tersebut membahas peluang Free Trade Agreement (FTA) dan pembukaan akses pasar baru bagi produk Indonesia. Melalui momen ini, Abhi menyaksikan secara langsung bahwa diplomasi ekonomi adalah proses yang sangat aktif dan nyata.

“Pengalaman ini membuktikan bahwa perdagangan internasional sebenarnya sangat dekat dengan mahasiswa. Kita bisa melihat prosesnya mulai dari pertemuan awal, komunikasi antar-pemerintah, hingga upaya nyata membuka pasar global,” ujar Abhi.

Menurutnya, peran generasi muda kini semakin krusial karena isu perdagangan global telah bergeser ke ranah ekonomi digital, keberlanjutan, hingga rantai pasok global yang sangat relevan dengan pola pikir anak muda. Diplomasi ekonomi tidak lagi hanya menjadi tugas diplomat karier, tetapi juga bisa dilakukan oleh startup, UMKM, hingga mahasiswa melalui riset dan program magang. Dengan kemampuan adaptasi teknologi yang lebih cepat dan akses informasi yang luas, mahasiswa sebenarnya sudah menjadi bagian kecil dari mesin besar Indonesia untuk bersaing di pasar global.

Tertarik mengikuti jalur Enrichment Track Internship seperti Abhi? Temukan informasi lengkap mengenai program, persyaratan, dan mitra institusi di halaman resmi Enrichment HI BINUS  dan mulailah rencanakan pengalaman belajarmu di luar kelas hari ini.

Ditulis oleh: Adrian Fausta Priyambada