JAKARTA – Di era globalisasi, dunia memang terasa tanpa batas. Namun bagi mahasiswa HI BINUS, keterbukaan ini adalah kesempatan emas untuk memahami budaya serta lingkungan global secara langsung. Melalui program Study Abroad, mahasiswa tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga dituntut untuk menjadi global citizen yang mampu membangun jejaring global.

Pengalaman menjadi warga dunia nyata dirasakan oleh dua mahasiswa HI BINUS melalui Study Abroad.  Redanka Damia Karim atau akrab disapa Danka, merupakan mahasiswa HI BINUS Global Class yang mengikuti program study abroad di National Chengchi University, Taiwan. Sementara itu, Sabrina Aleyida Mahmuda atau disapa Sabrina memilih melanjutkan pengalamannya di Incheon National University, Korea Selatan. Keduanya tidak hanya membawa pulang pengalaman akademik, tetapi juga jaringan pertemanan internasional, wawasan keilmuan yang lebih luas, serta perspektif yang semakin kaya dalam memahami dinamika global.

Danka bersama teman sekelas dan profesor di NCCU, Taiwan—kenangan berharga study abroad. (16 Desember 2025)

Redanka dan Petualangan Akademik di Jantung Geopolitik Asia Timur 

Bagi Danka, Memilih Taiwan sebagai destinasi study abroad bukan keputusan yang datang begitu saja. Ada dua alasan kuat yang melatarbelakangi. Pertama ini merupakan pengalaman pertama nya menginjakan kaki di Taiwan, sebuah kesempatan yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Kedua, dan ini yang paling relevan bagi mahasiswa HI, Taiwan sebagai posisi yang unik dalam pusat dinamika geopolitik di Asia Timur menjadikannya sebagai living case study yang nyata, terutama kajian defense security dan International Political Economy.

“Taiwan bukan hanya sekadar destinasi wisata atau akademik biasa. Posisi geopolitiknya sendiri sudah menjadi bahan belajar yang sangat kaya” ujar Danka.

Kejutan Positif: Sistem Pendidikan yang Maju dan Dosen yang Humanis

Memasuki lingkungan baru, Danka mengalami culture shock namun bukan yang konotasi negatif. Justru sebaliknya, ada dua hal yang membuatnya terkesan.

Yang pertama, adalah sistem pendidikan Taiwan yang menurutnya sangat maju. Kedua adalah pendekatan para dosen dengan murid yang sangat attentive dan peduli dengan mahasiswa nya. Ia merasakan salah satu momen yang ia ingat, saat konsultasi final project bersama profesornya ia mendapat masukan dan tips untuk memudahkan nya dalam pembuatan tugas akhir.

Tak kalah menarik, suasana belajar di sana terasa lebih santai namun justru disitulah Danka menemukan bahwa ia bisa menyerap materi dengan baik tanpa tekanan berlebih. Sebuah pendekatan yang menurutnya jauh berbeda dari yang lain.

Strategi membangun Jejaring Global: Berani Kenalan adalah Kuncinya

Salah satu alasan mengikuti program study abroad adalah membangun dan memperluas jejaring global dan Danka sudah menyadari ini sejak awal. Strategi yang ia terapkan dan efektif adalah Berani Kenalan dengan orang baru.

Tinggal di asrama kampus membuka peluang luas bagi Danka untuk berkenalan dan berjumpa dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang dan negara. Setiap ada waktu luang, ia mengajak teman-teman barunya untuk jalan-jalan atau makan bersama, cara yang efektif untuk melakukan bonding lintas budaya.

Namun membangun relasi tidak semulus itu. Tantangan terbesar nya adalah perbedaan jadwal dan kesibukan masing-masing orang. Solusinya? Danka memilih untuk proaktif, melihat jadwal teman-temannya dan mencari waktu yang paling cocok untuk semua pihak. Sebuah pendekatan yang sederhana, tapi membutuhkan kepekaan sosial yang tidak sedikit.

Lebih dari Sekadar Nilai: Warisan yang Dibawa Pulang

Bagi Redanka, study abroad meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam dari sekadar transkrip akademik. Ia kini memiliki jaringan pertemanan internasional yang solid dan kemampuan analisisnya terutama membedah isu-isu global semakin tajam berkat bimbingan dari dosen disana.

“Ini pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Saya pulang dengan teman-teman baru, skill baru, dan cara pandang yang baru,”  tutup Redanka.

 

Sabrina di Incheon National University, Korea Selatan—awal perjalanan yang mengubah perspektifnya. (20 Maret 2025)

Langkah awal Sabrina di Negeri Ginseng 

Berbeda dengan Danka yang tergerak oleh kalkulasi geopolitik, motivasi Sabrina untuk mengikuti study abroad berangkat dari rasa penasaran yang sangat amat kuat. Ia bertanya-tanya kepada diri nya sendiri, bagaimana rasanya hidup di luar negeri di lingkungan yang sama sekali tidak familiar? Ditambah lagi, melihat para alumni HI BINUS yang telah lebih dulu belajar di luar negeri semakin meyakinkannya bahwa program ini adalah sesuatu yang harus ia coba.

Bagi Sabrina, pengalaman langsung hidup di luar negeri bukan sekadar nilai tambah melainkan bagian penting dari pendidikan HI itu sendiri.

Di HI kita belajar tentang hubungan antarnegara, budaya, dan banyak perspektif. Jadi walaupun penting memahami teori, tetap perlu ngerasain langsung lewat pengalaman” ujar Sabrina

Ppali-Ppali: Ketika Ritme Hidup Korea Bikin Kaget

Setibanya di Korea Selatan, Sabrina langsung merasakan perbedaan yang cukup mencolok terutama dari sisi budaya. Sistem pengajaran di Incheon National University menggunakan metode semi-seminar, di mana mahasiswa dituntut aktif berdiskusi langsung dengan dosen dan sesama mahasiswa. Bahkan, para mahasiswa saling menyapa dengan sebutan. “Mr”. dan “Miss” sesuatu yang terasa sangat unik bagi Sabrina.

Namun culture shock terbesar justru datang dari ritme hidup masyarakat yang serba cepat atau istilah nya budaya “Ppali-Ppali” yang secara harfiah berarti “cepat-cepat” terasa sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. “Waktu pertama kali tiba, aku sering nabrak orang asing karena jalan terlalu pelan, karena terbiasa dengan ritme berjalan Indonesia yang jauh lebih slow”, cerita Sabrina sambil tertawa. Di sisi lain, budaya cepat ini punya dampak positif pekerjaan kelompok pun bisa selesai lebih efisien tanpa perlu diingatkan berkali-kali.

Proaktif dan Tidak Takut Ditolak

Untuk membangun relasi di Korea Selatan, Sabrina tidak mengandalkan strategi yang rumit. Kuncinya adalah proaktif berani approach teman-teman di kelas lebih dulu, baik untuk kerja kelompok maupun sekadar obrolan ringan. Ia juga aktif mengikuti berbagai event kampus seperti welcoming party, yang menjadi ajang berkenalan dengan mahasiswa dari berbagai negara.

Kuncinya harus berani memulai percakapan duluan, dan jangan take everything personally karena tidak semua yang kita ajak bicara akan merespons dengan apa yang kita harap”,  pesan Sabrina.

Menaklukkan Language Barrier Satu Kosakata dalam Satu Waktu

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Sabrina adalah language barrier. Mayoritas mahasiswa lokal di Korea berbicara Bahasa Inggris dengan sangat terbatas, sehingga komunikasi sehari-hari menjadi tantangan tersendiri terlebih ketika harus bekerja dalam satu kelompok bersama mahasiswa Korea.

Untuk mengatasinya, Sabrina mengandalkan Bahasa Inggris sederhana sebagai pembuka percakapan, lalu melanjutkan dengan bantuan aplikasi penerjemah. Ia juga sudah mempersiapkan diri sebelum berangkat dengan mempelajari kosakata Korea sehari-hari dan setidaknya bisa membaca Hangul. “Lama-lama jadi lebih terbiasa, dan ternyata mereka juga sangat terbuka untuk berkomunikasi”, ujarnya.

Lebih dari Sekadar Pengalaman: Bekal untuk Masa Depan

Bagi Sabrina, study abroad di Korea Selatan adalah pengalaman yang berdampak baik secara akademik maupun untuk kariernya ke depan. Secara akademik ia kini memiliki perspektif yang lebih luas dalam melihat isu-isu internasional dan lebih terbiasa dengan pola diskusi kritis. Di luar itu, pengalaman ini juga menempa kepercayaan dirinya, kemampuan adaptasi, manajemen waktu, hingga skill komunikasi yang menurutnya akan sangat berharga di dunia kerja kelak.

Enrichment HI BINUS: Membentuk Generasi Diplomat yang Siap Hadapi Dunia

Kisah Danka dan Sabrina hanyalah dua dari sekian banyak cerita yang lahir dari program Enrichment HI BINUS. Melalui program Study Abroad, HI BINUS tidak hanya membekali mahasiswanya dengan teori dan konsep akademik semata tetapi juga memberi kesempatan untuk terjun langsung ke tengah dinamika dunia nyata.

Kedua mahasiswa ini membuktikan bahwa batas geografis bukan lagi hambatan untuk belajar, berkembang, dan membangun koneksi global. Dari ruang kelas di Taipei hingga diskusi sengit di Incheon, mereka pulang bukan hanya sebagai mahasiswa yang lebih cerdas secara akademik, tetapi juga sebagai individu yang lebih tangguh, adaptif, dan siap berkontribusi di panggung internasional.

Program Enrichment HI BINUS terus membuka pintu bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi dunia dan memperluas cakrawala mereka karena disinilah seorang mahasiswa HI sejati dibentuk, bukan hanya di dalam kelas, tetapi juga di antara beragam budaya, bahasa, dan perspektif yang hanya bisa didapatkan dengan mengalaminya langsung.

 

Ditulis Oleh: Adrian Fausta Priyambada