International Lecture Series: Saat Dunia Bergejolak, Apa yang Masih Bisa Uni Eropa Tawarkan?
JAKARTA – Lahir dari pecahan-pecahan perang dunia kedua, dibangun dengan kepercayaan bahwa kerja sama dapat mengurangi konflik di era tengah dunia yang berguncang dan penuh ketidakpastian, dari sini lah Uni Eropa harus membuktikan relevansinya.
Pada sesi Visiting Lecture Series yang diadakan pada Selasa, 28 April 2026 di ruangan Kijang Function Center Kampus Kijang, Uni Eropa membawa tema yaitu “The European Union: An Offer in a Volatile World”. Kesempatan ini disampaikan langsung oleh Olof Skoog, Deputy Secretary General for Political Affairs European External Action Service (EEAS) sebuah lembaga diplomasi Uni Eropa, Skoog bukan hanya seorang akademisi yang menganalisis dari jauh. Ia adalah sosok yang setiap harinya berhadapan dengan krisis geopolitik, negosiasi diplomatik, dan tekanan multipolar yang tak kunjung henti. Kesempatan langka ini menjadi kesempatan emas bagi mahasiswa HI Binus untuk menyaksikan secara langsung materi posisi dan tawaran Uni Eropa dalam dunia saat ini.
Sesi foto bersama Olof Skoog (EEAS) dengan mahasiswa HI BINUS di Kijang Function Center (28/5/2026)
Eropa di Dunia Multipolar
Salah satu hal yang paling disoroti dari sesi ini adalah ketika Skoog berbicara mengenai posisi UE di dunia multipolar sekarang. Istilah ini lahir setelah Perang Dingin, di mana Amerika Serikat menjadi kekuatan unipolar dalam militer, ekonomi, kebijakan. Dunia kini bukan lagi soal satu negara saja yang pegang kendali, melainkan terdapat beberapa kekuatan baru yang lahir seperti Amerika Serikat, China, Rusia dan banyak kekuatan lain yang memiliki agenda-agenda tertentu dan disitulah peran UE dimainkan untuk menjadi titik tengah dari semua itu.
Ada paradoks yang menarik dalam sesi ini. Secara ekonomi, UE adalah salah satu kutub terbesar dunia pasar tunggal dengan lebih dari 440 juta penduduk, kekuatan perdagangan yang tak bisa dianggap kecil. Namun di meja politik, pengaruh UE kerap tidak sebanding dengan bobotnya, hal ini membawa pertanyaan yaitu Mengapa? Jawabannya adalah karena UE bukanlah satu negara. Ia adalah kesepakatan yang dibentuk oleh 27 bangsa berdaulat yang harus terus berunding sebelum bisa bersuara.
Namun justru disitu letak keunikan UE. Di era ketika banyak negara berlomba mengejar kepentingan jangka pendek, UE tetap berpegang pada multilateralisme dan tatanan berbasis basic rules and principle yang kian terasa seperti di dunia sekarang seperti berenang terbawa arus, sebuah tawaran langka yang bisa diberikan UE kepada dunia.
Gaza: Ujian yang tidak Bisa Dihindari
Isu Gaza menguji kredibilitas UE sebagai posisi kekuatan berbasis nilai daripada konflik Gaza. Skoog menyentuh topik ini dalam sesinya, secara resmi UE mendukung solusi dua negara dan mendesak akses penuh bantuan kemanusiaan ke Gaza. Secara realita, fakta tersebut jauh lebih kompleks. Di dalam tubuh UE sendiri, ada posisi anggota terbelah ada yang condong ke Israel dan ada yang lantang mengkritik operasi militernya. Ketidakseragaman ini membuat suara di panggung internasional terdengar samar, bahkan kontradiktif.
Bagi mahasiswa hubungan internasional di Indonesia dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang memiliki tingkat kepedulian tinggi terhadap rakyat Palestina, ini bukan sekadar catatan akademis saja, ini adalah cermin yang memperlihatkan adanya jarak antara retorika dan tindakan nyata. UE kerap menyebutkan diri mereka sebagai pelindung nilai-nilai kemanusiaan universal, namun ketika nilai tersebut diuji dalam kondisi seperti ini diuji oleh kepentingan politik internal yang tersisa seringkali hanyalah pernyataan yang menggantung minim tindakan.
Koneksi dengan Program Enrichment BINUS
Kehadiran Olof Skoog di ruangan Kijang Function Center bukan sekadar kuliah umum biasa, melainkan manifestasi nyata dari Program Enrichment 3+1 yang diusung oleh BINUS University. Bagi mahasiswa Hubungan Internasional, kesempatan untuk berdialog langsung dengan praktisi dari European External Action Service (EEAS) merupakan jembatan krusial yang menghubungkan teori di kelas dengan dinamika profesional di lapangan. Materi yang dipaparkan mengenai posisi Uni Eropa di dunia multipolar memberikan landasan data primer yang sangat berharga bagi mahasiswa yang mengambil jalur Research, khususnya dalam membedah paradoks kekuatan ekonomi versus pengaruh politik global.
Lebih jauh lagi, bagi mereka yang memproyeksikan diri di jalur Internship pada organisasi internasional atau lembaga diplomasi, pengalaman skoog dalam menghadapi krisis geopolitik dan negosiasi harian menjadi gambaran nyata tentang kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja internasional. Diskusi mengenai isu Gaza pun menjadi refleksi kritis yang melampaui catatan akademis semata, menantang mahasiswa untuk melihat jarak antara retorika kemanusiaan dan realitas tindakan nyata di panggung dunia. Melalui kegiatan Visiting Lecture Series ini, BINUS membuktikan komitmennya dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kepekaan tajam terhadap tatanan dunia yang terus bergejolak.
Ditulis oleh: Adrian Fausta Priyambada
Comments :