JAKARTA – Kalau kita mundur ke abad ke-18, terdapat satu momen sejarah besar di mana Revolusi Industri di Inggris mengubah total wajah dunia. Penemuan mesin uap dan penggunaan batu bara secara masif sukses bikin perekonomian global melonjak tajam. Akan tetapi, model pertumbuhan ekonomi praktis hal ini meninggalkan warisan berat untuk generasi kita hari ini yaitu krisis iklim dan rusaknya lingkungan.

Transisi ke Green Economy

Hari ini dunia berada di situasi titik balik yang berlawanan arah. Krisis iklim yang dulu jadi “efek samping” pertumbuhan ekonomi kini berubah menjadi pendorong utama transformasi ekonomi global itu sendiri. Konsep green economy lahir dari kesadaran bahwa pertumbuhan tidak bisa lagi dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan. Negara-negara besar berlomba memangkas emisi karbon, mengembangkan energi terbarukan, dan membangun rantai pasok industri hijau mulai dari panel surya, kendaraan listrik, hingga baterai berbasis nikel dan litium.

Namun, di balik narasi ini, transisi hijau bukan sekadar persoalan teknologi atau lingkungan semata. Ia adalah arena baru pertarungan kekuasaan, kepentingan ekonomi, dan diplomasi antar negara sebuah ranah yang sangat erat kaitannya dengan disiplin Hubungan Internasional.

Lahirnya Green Jobs

Transformasi besar ini melahirkan kebutuhan baru di pasar kerja global yang dikenal sebagai green jobs pekerjaan yang berkontribusi langsung pada pelestarian atau pemulihan kualitas lingkungan, International Labour Organization memperkirakan transisi energi hijau dapat menciptakan puluhan juta lapangan pekerjaan kerja baru di seluruh dunia dalam dekade mendatang. Namun, green jobs tidak hanya berarti insinyur panel surya atau teknisi turbin angin. Dibalik setiap proyek energi hijau, selalu ada lapisan negosiasi kebijakan, perjanjian dagang internasional, regulasi lintas negara, hingga konflik kepentingan geopolitik yang harus dikelola dan disinilah lulusan Hubungan Internasional menemukan tempatnya.

Siapkah Kamu Jadi Bagian dari Transisi Hijau? Ini Jalannya Lewat Enrichment HI Binus

Kenyataannya, mahasiswa HI Binus tidak perlu menunggu lulus untuk mulai membangun fondasi karir di bidang green economy. Program Enrichment yang dijalani di  semester 6 dan 7, dengan bobot setara 40 SKS, dirancang untuk menjembatani teori di ruang kelas dengan realita kerja yang semakin diwarnai isu keberlanjutan. Lewat track Certified Internship, mahasiswa bisa langsung terjun ke instansi seperti Kementerian Luar Negeri, ASEAN Foundation, atau perusahaan multinasional yang kini berlomba menyusun strategi rendah karbon dan rantai pasok berkelanjutan.

Bagi yang tertarik pada sisi analitis dan akademis, track Certified Research membuka jalan untuk mengembangkan kemampuan riset strategis sekaligus mempersiapkan studi lanjut ke jenjang S2. Sementara itu, mahasiswa yang ingin bergerak di level akar rumput dapat memilih Certified Community Development, mengasah diplomasi budaya dan keterlibatan pada proyek pembangunan berkelanjutan di tingkat komunitas sebuah keterampilan yang sama pentingnya dengan negosiasi di meja perundingan internasional saat berbicara mengenai transisi energi yang adil (just energy transition).

Kesimpulannya, green jobs bukan hanya soal teknologi dan rekayasa, melainkan juga soal siapa yang merancang aturan main, siapa yang bernegosiasi, dan siapa yang memastikan transaksi ini tidak menciptakan ketimpangan baru. Maka dari sinilah Enrichment Program HI Binus menempatkan mahasiswanya bukan sebagai penonton, tapi sebagai calon aktor yang ikut menentukan arah masa depan hijau dunia.