Kontribusi dan Pengalaman Mahasiswa HI BINUS Magang di KBRI Kuala Lumpur
Akbar Daffa Al Fahrezi, mahasiswa HI BINUS semester 6 saat magang di KBRI Kuala Lumpur (sumber: Dokumen Pribadi Akbar Daffa Al Fahrezi)
JAKARTA – Sebagai Mahasiswa HI, magang di kedutaan merupakan kesempatan istimewa yang dapat memperkaya rekam jejak profesional di bidang diplomasi dan hubungan internasional. Di era yang penuh dengan ketidakpastian, setiap negara dituntut untuk terus memperluas jangkauan kerjasamanya, dan disinilah peran generasi muda menjadi krusial dalam membangun sinergi antara pemerintah, pemuda, dan komunitas.
Salah Satu nya adalah Akbar Daffa Al Fahrezi, mahasiswa hubungan internasional (B27) yang memiliki kesempatan magang dan turut berkontribusi mendukung kerja-kerja diplomatik dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kuala Lumpur. Penasaran dengan kontribusi dan cerita pengalaman Akbar selama di KBRI Kuala Lumpur?
Perjalanan dari Jakarta Ke Kuala Lumpur
Diawali dengan ketertarikan Akbar di lingkungan diplomatik. Bagi nya KBRI bukan hanya sekadar kantor perwakilan biasa saja, melainkan ruang untuk Akbar berkembang dan memahami lingkup serta menjadi representasi langsung hubungan Indonesia dengan Malaysia. Berikut cerita terkait proses yang harus dilalui nya:
“Aku tertarik karena rasa penasaran yang tinggi dan ingin tahu bagaimana lingkup kerja di kedutaan, apalagi KBRI Kuala Lumpur yang merupakan representasi diplomasi Indonesia-Malaysia. Untuk mendaftar sendiri, bisa langsung mengirim email ke atase pendidikan dengan melampirkan dokumen yang diperlukan seperti surat lamaran kerja, surat pengantar dari kampus, CV, transkrip nilai terbaru, serta KTP dan paspor. Mahasiswa yang berkuliah di Indonesia hanya bisa mengambil program magang mandiri dengan durasi maksimal satu bulan. Aku sendiri magang selama empat bulan dan prosesnya cukup panjang karena harus menunggu persetujuan dari atase pendidikan. Makanya aku sarankan untuk teman-teman yang tertarik, ambil saja jalur magang mandiri yang satu bulan itu, karena proses nya lebih simpel.”
Hari Pertama dan Ritme Kerja di Kedutaan
Berbeda dengan magang pada umumnya, di KBRI Kuala Lumpur penempatan nya sendiri dikasih tau setelah mahasiswa resmi memulai hari kerja nya. Akbar menceritakan bagaimana proses tersebut berlangsung:
“Saat pendaftaran, kita belum bisa memilih ingin ditempatkan di divisi mana. Penempatan baru ditentukan di hari pertama kerja kita diminta menunggu di lobby KBRI Kuala Lumpur untuk pembagian divisi. Untuk jam kerja sendiri dimulai pukul 9 pagi sampai 5 sore, dengan istirahat pukul 12 hingga 1 siang.”
Diplomasi Bukan Sekadar Meja Perundingan
Salah satu insight paling berharga yang didapat oleh Akbar adalah pemahaman baru bahwa hubungan bilateral tidak selalu berbicara soal negosiasi tingkat tinggi. Ia menjelaskan bagaimana pelayanan sehari-hari kepada WNI justru menjadi pondasi penting dari hubungan baik kedua negara:
“Selama magang, aku belajar bahwa menjaga hubungan bilateral Indonesia-Malaysia tidak melulu soal diplomasi tingkat tinggi, tapi juga lewat pelayanan profesional kepada WNI dan koordinasi yang baik antar bagian. Dari situ aku paham pentingnya komunikasi, kerja sama tim, ketelitian, dan etika kerja dalam mendukung hubungan yang baik antara kedua negara.”
Menghadapi Ratusan WNI Setiap Hari
Tantangan terbesar justru datang dari sisi pelayanan langsung. Ditempatkan di Atase Hukum dan Atase Imigrasi, Akbar dihadapkan pada situasi yang menuntut kesabaran sekaligus ketelitian yang tinggi:
“Tantangan terbesarku adalah beradaptasi dengan lingkungan kerja diplomatik yang menuntut profesionalisme, ketelitian, dan kemampuan komunikasi yang baik. Saat ditempatkan di Atase Hukum, aku harus melayani lebih dari 100 WNI setiap hari yang datang tanpa paspor dari situ aku belajar untuk tetap sabar, tenang, dan memberikan pelayanan yang baik. Sementara di Atase Imigrasi, tantangannya lebih ke menjaga ketelitian dalam mengurus dokumen paspor pemohon agar tidak terjadi kesalahan administrasi.”
Bekal yang Dibawa Pulang
Dari seluruh pengalaman tersebut, Akbar mengaku ada beberapa skill yang benar-benar melekat dan akan terus ia bawa ke jenjang karier selanjutnya:
“Yang paling berharga buatku adalah kemampuan berkomunikasi dengan berbagai kalangan masyarakat, memberikan pelayanan publik secara profesional, dan bekerja teliti dalam mengelola dokumen. Aku juga belajar beradaptasi di lingkungan kerja diplomatik, bekerja sama dalam tim, dan memahami pentingnya menjaga citra serta pelayanan KBRI kepada WNI di luar negeri”.
Pesan Penutup dari Akbar
Di akhir sesi wawancara ini, Akbar menitipkan pesan khusus bagi mahasiswa HI BINUS lain yang tertarik mengikuti jejaknya:
“Sayang banget kalau kalian belum coba internship di sana, karena banyak pengalaman yang bisa didapat bukan cuma soal kerja, tapi juga eksplor Malaysia, mulai dari wisata sampai kulinernya. Nasi lemak dan nasi kandar itu mirip nasi uduk, tapi versi lebih eksklusif! Untuk tips, begitu diterima dan mulai magang, usahakan sapa semua staf KBRI, karena kita membawa nama kampus dan fakultas. Good luck, semoga kalian bisa!”
Ditulis oleh: Adrian Fausta Priyambada
Comments :