Patrick Kurniawan, Binusian 2020 – Taiwan MoFA Fellowship
Alumni Voice: Perjalanan Patrick Kurniawan Menembus Batas IR Scholar melalui Taiwan MoFA Fellowship
Mengenal sosok Patrick Kurniawan, lulusan Hubungan Internasional (HI) BINUS University angkatan 2020 (Binusian 2020) yang kini menapaki karier gemilang di dunia akademik internasional. Perjalanannya dari ruang kelas hingga menjadi Visiting Scholar di Taiwan memberikan inspirasi berharga tentang dedikasi dan pentingnya membangun jejaring.
Membangun Fondasi melalui Diplomasi dan Riset
Sejak masa kuliah, Patrick telah menunjukkan ketertarikan mendalam pada dunia diplomasi. Ia tidak hanya fokus di kelas, tetapi aktif mengasah kemampuan melalui kompetisi Model United Nations (MUN) dan English Debate. Pengalaman ini memberinya kesempatan berharga untuk melakukan perjalanan internasional sekaligus membangun jejaring dengan rekan-rekan dari berbagai belahan dunia.
Setelah menyelesaikan studinya di BINUS, Patrick melanjutkan pendidikan S2 di National Chengchi University, salah satu institusi terbaik di Taiwan untuk bidang Political Science. Di sinilah ia semakin memperkuat kapasitas akademiknya di bawah bimbingan para mentor yang suportif.
Karier sebagai Peneliti dan Raihan Taiwan MoFA Fellowship
Passion-nya dalam riset membawanya berkarier sebagai Researcher di The Habibie Center pada divisi ASEAN. Konsistensinya di jalur akademik membuahkan hasil manis pada tahun 2024, di mana ia terpilih sebagai penerima beasiswa bergengsi Taiwan MoFA Fellowship. Program ini memungkinkannya kembali ke Taiwan sebagai Visiting Scholar selama satu tahun untuk mendalami risetnya.
“Saya tidak pernah secara spesifik membayangkan akan menjadi Taiwan MoFA Fellow. Namun sejak kuliah, saya tahu bahwa passion saya adalah menjadi akademisi di bidang HI,” ungkapnya.
Kunci Sukses: Lebih dari Sekadar IPK
Bagi Patrick, kesuksesan bukan hanya soal angka di atas kertas. Saat ditanya mengenai mana yang lebih penting antara IPK, organisasi, riset, atau relasi, ia menekankan bahwa semuanya penting, namun relasi sering kali diremehkan.
Ia percaya bahwa relasi adalah two-way street yang memerlukan kontribusi timbal balik. Melalui hubungan baik dengan dosen, senior, dan rekan sejawat, banyak peluang karier dan akademik yang terbuka lebar baginya.
Peran Mentor dan Fokus Riset Asia Timur
Perjalanan akademik Patrick tidak lepas dari peran “Mas Rangga”, dosen di HI BINUS yang menjadi mentor pertamanya. Dimulai dari menjadi asisten riset hingga bimbingan skripsi, pengaruh mentor tersebut bahkan membuat Patrick mengikuti jejak sang dosen untuk menempuh studi S2 di almamater yang sama.
Fokus risetnya saat ini pada kawasan Asia Timur pun berakar dari salah satu mata kuliah yang ia ambil di BINUS, yaitu East Asian Affairs. Ketertarikan yang bermula dari bangku kuliah tersebut kini telah berkembang menjadi keahlian profesional yang diakui secara internasional.



