JakartaBagi banyak mahasiswa Hubungan Internasional BINUS, diplomasi sering kali terbayangkan sebagai proses damai yang harmoni. Namun, pengalaman Enrichment HI BINUS Kemlu RI memberikan sudut pandang berbeda bahwa realitas di lapangan justru jauh lebih dinamis dan taktis. Sebaliknya, diplomasi adalah arena transaksional dengan kepentingan nasional sebagai tolok ukur utama.

Dari Teori Ke Meja Perundingan

Masuk ke gedung Kemlu RI berarti harus siap meninggalkan “kacamata idealis”. Di koridor-koridor kementerian, para mahasiswa tidak lagi hanya membaca buku Politics Among Nations karya Hans J. Morgenthau (1948) secara teori. Mereka menyaksikan langsung bagaimana argumen Morgenthau tentang perjuangan mendapatkan kekuasaan (struggle for power) dipraktikkan dalam setiap sesi Focus Group Discussion (FGD) dan pertemuan bilateral.

Oleh karena itu, setiap sesi diskusi bukan sekadar ruang pertukaran ide yang konstruktif. Di balik protokol yang rapi dan elegan, terdapat negosiasi intens yang bersifat “take and give”. Mahasiswa Enrichment HI BINUS pun diuji untuk memahami bahwa setiap langkah Diplomasi Kemlu RI adalah manifestasi nyata dari upaya negara dalam mengamankan posisinya di panggung dunia.

Realita di Balik Resolusi Global

Pengalaman ini semakin diperkaya saat mahasiswa mengamati keterlibatan Indonesia dalam institusi global seperti PBB, yang menjadi referensi utama dalam proses penyelesaian konflik. Mengacu pada pemikiran Kenneth Waltz (1979), mereka menyadari bahwa dalam sistem internasional yang anarki. Akibatnya, setiap negara dipaksa bertindak mandiri demi keberlangsungan mereka untuk bertahan.

PBB kini terlihat sebagai panggung besar tempat negara bernegosiasi untuk mencapai kompromi fungsional. Selain itu, ada dua poin utama yang dipelajari:

  • Pertama, setiap resolusi internasional bukanlah hasil instan, melainkan buah dari perundingan kepentingan aktor global yang sangat panjang dan sering kali bersifat transaksional.
  • Kedua, penyelesaian masalah di lapangan menuntut jalan tengah yang pragmatis karena setiap aktor akan selalu memprioritaskan keamanan serta kepentingannya sendiri.

Menjadi Analis Strategis 

Program Enrichment HI BINUS ini akhirnya menjelma sebagai laboratorium hidup yang mengharuskan mahasiswa memiliki standing opinion yang tajam. Dengan terjun langsung ke instansi pemerintahan sekelas Kemlu RI. Mereka belajar membedah kerja sama internasional secara strategis.

Selain itu, ketangkasan bernegosiasi terbentuk saat mereka memahami bahasa diplomasi yang halus namun tegas. Mereka juga harus memiliki adaptabilitas profesional untuk bekerja di bawah tekanan isu geopolitik. Pada akhirnya, magang ini membuktikan bahwa stabilitas dunia hanya bisa dijaga melalui perundingan yang cerdas. Mahasiswa kini bertransformasi menjadi calon profesional yang tangkas menavigasi politik global.


Ditulis Oleh: Adrian Fausta Priyambada