Bayangkan sebuah ruang sidang PBB, lengkap dengan para diplomat berjas rapi yang sedang berdebat serius. Dulu, mungkin begitulah satu-satunya wajah diplomasi yang kita kenal. Namun, seiring waktu menuju tenggat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di tahun 2030, wajah diplomasi kini telah turun ke bangku kuliah. Di titik inilah, peran Mahasiswa HI BINUS SDGs menemukan panggung emasnya. Oleh karena itu, berbekal pemahaman politik global dan komunikasi lintas budaya, lewat program (3+1) Enrichment, kita didorong terjun langsung mempraktikkan peran sebagai agen perubahan, mengubah visi global menjadi aksi nyata.

Aksi Nyata Mahasiswa HI BINUS SDGs: Bersuara dari Lapangan

Di kampus, kita terbiasa membedah isu global yang rumit. Selanjutnya, saat turun lewat program Enrichment, skill ini otomatis berubah jadi aksi advokasi. Bahkan, saat magang di perusahaan atau NGO, kita sadar isu global benar-benar ada di depan mata. Laporan SDG Progress Report terbaru dari PBB menyebutkan angka pemuda pengangguran atau kurang akses pendidikan global masih tinggi. Sebagai anak HI di dunia profesional, ini waktunya bersuara. Lewat tulisan opini, campaign digital, atau inisiatif di tempat magang, kita bisa mendorong kebijakan yang lebih inklusif.

Bawa Pisau Analisis: Wujud Peran Mahasiswa HI di Dunia Nyata

Satu hal yang paling terasa dari kuliah HI adalah insting kritis kita yang terlatih. Bahkan, kita tidak gampang menelan mentah-mentah sebuah kebijakan. Saat menjalani Enrichment, insting ini sangat membantu untuk mengawal SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh).

Menganalisis Regulasi dan Pengawasan Independen

Selanjutnya, peran Mahasiswa HI BINUS SDGs dalam menganalisis regulasi sangat vital. Kita tidak lagi sekadar baca jurnal, tapi melihat langsung regulasi berjalan di dunia nyata. Oleh karena itu, dari situ kita bisa bertindak sebagai pengawas independen, menilai apakah program di tempat kita praktik sudah transparan dan berkeadilan sosial.

Bikin Impact yang Menular lewat Kolaborasi Global

Bicara diplomasi modern pasti ujung-ujungnya soal kolaborasi (Partnerships for the Goals). Bahkan, Indonesia sebenarnya punya progres membanggakan; data Kementerian PPN/Bappenas menyebutkan kita sudah mencapai 62% indikator SDGs, jauh meninggalkan rata-rata global PBB di angka 17%. Namun, tugas belum selesai. Selanjutnya, lewat networking selama Enrichment—seperti kenalan dengan mentor magang atau teman internasional saat study abroad—kita membangun jembatan agar inisiatif lokal bisa direplikasi di level lebih luas.

Tulis Cerita Kita Sendiri

Pada akhirnya, mengejar target SDGs 2030 itu seperti lari maraton yang butuh banyak orang. Pengalaman program Enrichment menyadarkan kita bahwa diplomasi sejati hidup dari hal-hal kecil yang kita kerjakan. Inilah esensi sejati dari peran mahasiswa HI; kita tidak perlu menunggu wisuda untuk memberi impact. Mulai dari sekarang, lewat cerita, tulisan di website Enrichment BINUS, dan pengalaman lapangan, kita buktikan mahasiswa HI BINUS bukan sekadar pengamat, tapi ikut andil membentuk masa depan.





Ditulis oleh: Adrian Fausta Priyambada