JAKARTA – Jurusan Hubungan Internasional (HI) BINUS University kembali memperkuat jejaring globalnya melalui gelaran International Lecture Series yang diadakan pada 7 April 2026 di Ruangan Kijang Function Chamber. Kali ini jurusan Hubungan Internasional menghadirkan Vania De la Vega dari Universidad Nacional Autónoma de México (UNAM) untuk membedah topik strategis terkait kerja sama Asia, Indonesia, Meksiko di masa depan.

Acara ini bertujuan untuk membuka pemahaman baru bagi mahasiswa mengenai dinamika kerjasama kawasan Trans-Pasifik. Hal ini sangat relevan dengan komitmen jurusan HI BINUS dalam mencetak lulusan yang memiliki wawasan global yang luas. Lantas, apa saja poin-poin utama yang dibahas dalam International Lecture Series kali Ini? Mari kita simak ulasanya!

Meksiko sebagai Jembatan di Dunia Multipolar

Dalam pemaparannya, Vania De la Vega menjelaskan bahwa kebijakan luar negeri Meksiko saat ini difokuskan untuk menjadi jembatan di tengah dunia yang semakin multipolar. Salah satu strategi utamanya adalah memberikan visibilitas kepada mitra-mitra non tradisional guna mengubah narasi dan global yang selama ini ada.

Secara konstitusional, kebijakan luar negeri Meksiko berpijak pada prinsip-prinsip kuat seperti non-intervensi, hak penentuan nasib sendiri (self-determination), dan solusi damai atas setiap kontroversi.

Kekuatan Ekonomi dan Rantai Pasok Global

Dari perspektif ekonomi politik, Meksiko menunjukan pertumbuhan yang signifikan. Sejak 1988, porsi ekspor terhadap GDP telah meningkat tiga kali lipat. Beberapa poin kunci yang dipaparkan meliputi:

  • Assembly Hub

Meksiko memainkan peran kunci sebagai pusat perakitan dalam berbagai sektor manufaktur global.

  • Global Value Chains (GVC)

Integrasi Meksiko dalam rantai nilai global sangat didorong oleh backward linkages, di mana nilai ekspornya banyak berasal dari komponen luar negeri

  • Nearshoring

Tren nearshoring menjadi salah satu topik sentral dalam kebijakan luar negeri dan ekonomi Meksiko saat ini.

Ruang Dialog dengan Indonesia

Vania juga menyoroti bahwa Indonesia dan Meksiko memiliki ruang dialog yang luas karena ada kesamaan identitas sebagai emerging economies dengan pengaruh regional besar. Hubungan ini telah terjalin lama, mulai dari era Manila Galleon hingga kolaborasi modern dalam MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia).

Bagi kedua negara, multilateralisme bukan sekadar alat diplomatik, melainkan sarana untuk menyuarakan kepentingan Global South agar sistem internasional menjadi lebih seimbang dan inklusif.

Persiapan Menuju Program Enrichment

Pemaparan Vania memberikan perspektif yang segar bahwa memahami kebijakan luar negeri suatu negara bukan sekadar hafalan doktrin, melainkan upaya membaca bagaimana sebuah negara memposisikan dirinya di tengah pergeseran tatanan global. Bagi mahasiswa HI BINUS, wawasan semacam ini menjadi bekal yang relevan, khususnya bagi mereka yang tengah mempertimbangkan jalur Enrichment study abroad.

Amerika Latin, yang kerap luput dari perhatian dalam diskursus HI di Indonesia, kini menawarkan peluang eksplorasi yang konkret. Salah satunya melalui program Study Abroad ke universitas mitra seperti Tecnologico de Monterrey di mana mahasiswa tidak hanya akan berhadapan dengan teori di ruang kelas, tetapi juga bisa merasakan secara langsung bagaimana dinamika ekonomi-politik kawasan bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Ditulis oleh: Adrian Fausta Priyambada