Post-2021 Olympics: Indonesia’s Strategy in Maximizing its Sports Diplomacy

International Relations Lecture Series #80 dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Chapter BINUS University bekerja sama mempersembahkan acara Diplomacy Discourse: Magnifying Indonesia’s Public Diplomacyyang secara khusus membahas mengenai Post-2021 Olympics: Indonesia’s Strategy in Maximizing its Sports Diplomacy. Acara webinar ini diadakan pada Kamis, 9 November 2021 pukul 14.00 – 16.00 WIB (GMT+7) di platform Zoom dan saluran YouTube FPCI Chapter Binus yang dapat diakses di https://www.youtube.com/watch?v=-xtSKzoGee4&t=220s. Acara ini dihadiri oleh beberapa pembicara terhormat, yaitu Drs. TB Ade Lukman Djayadikusuma, MEMOS selaku Sekretaris Jenderal KONI Pusat dan Jadi Rajagukguk selaku Komite Eksekutif Komite Olimpiade Indonesia. Serta, dimoderatori oleh Ario Bimo Utomo, S.I.P., MIR. selaku Dosen Jurusan Hubungan Internasional UPN “Veteran” Jawa Timur dan dipandu oleh kedua Master Ceremony, yaitu Kayaka Davina dan Juan Bezaliel selaku anggota dari FPCI Chapter BINUS. 

Sesi pertama dimulai dengan pemaparan presentasi dari Pak Jadi yang menjelaskan mengenai Misi Komite Olimpiade Indonesia (NOC) yang berisi mengembangkan, mempromosikan, dan melindungi prinsip dan nilai luhur Olympism dan gerakan Olimpiade di negaranya sesuai dengan ketentuan Piagam Olimpiade. Kemudian, dijelaskan juga peran Komite Eksekutif Komite Olimpiade Indonesia, seperti mempromosikan prinsip dan nilai dasar Olimpiade; menjamin pelaksanaan Piagam Olimpiade; mendorong pengembangan olahraga prestasi dan olahraga komunitas; membantu pelatihan dan pendidikan untuk tenaga olahraga dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar Olimpisme; mengambil tindakan terhadap setiap bentuk diskriminasi dan kekerasan dalam olahraga; memberlakukan dan melaksanakan Kode Anti Doping Dunia. Setelah itu, Pak Jadi memberikan penjelasan mengenai beberapa hak dan kewenangan komite Olimpiade Indonesia, prinsip-prinsip dasar Olimpiade, keanggotaan komite Olimpiade Indonesia, Olympic Movement, Levelisasi atlet, dan quick wins menuju 10 besar Olimpiade & Paralimpik 2032. 

Sesi kedua dilanjutkan dengan pemaparan dari Pak Ade yang membahas strategi KONI Pusat dalam memaksimalkan diplomasi olahraga pasca Olimpiade Tokyo 2021. Penjelasannya dimulai dengan pendahuluan yang menjelaskan “Olimpiade itu memang ada ancient Olympic di masa zaman kuno. Kemudian, ada Olympic modern yang dimulai pada tahun 1896 dan awal abad ke 19 ditemukan kembali peninggalan kebudayaan kota Olimpia oleh tentara Jerman dan B.Pierre de Coubertin melahirkan semangat lomba Olimpia yang dipadukan dengan ide penyelenggara international sport event yang kemudian diadakan Olimpiade yang pertama di kota Athena pada tahun 1896” ucapnya. Dijelaskan juga mengenai simbol dari Olimpiade yang diciptakan oleh B.Pierre de Coubertin berupa 5 Cincin dengan lima warna: Biru, Kuning, Hitam, Hijau, dan Merah dengan latar belakang putih yang menggambarkan wakil dari 5 benua yaitu; Asia, Eropa, Afrika, Amerika dan Australia, serta beberapa negara di dunia yang merupakan bagian dari warna bendera masing-masing negara.   

Pak Ade menjelaskan juga terdapat beberapa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Olympism dan harus dimiliki oleh kita semua, yaitu: Respect (menghargai), Excellence (keunggulan), Friendship (persahabatan). Selanjutnya, Pak Ade mengucapkan “Alasan Mengapa IOC menggandeng United Nation atau PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa, karena dalam ini PBB melihat bahwa olahraga merupakan suatu media yang universal, karena dengan olahraga we speak the same language”. Diplomasi adalah seni dalam merepresentasikan kepentingan nasional suatu negara, melalui penggunaan cara-cara damai. 

Lebih lanjut, dijelaskan juga mengenai diplomasi olahraga yang memiliki definisi menggunakan olahraga sebagai alat diplomasi. Contohnya, Olympic Games 1956 dan 2964 (Jerman Barat dan Timur), Olympic Games 2000 dan 2004 (Korea Selatan dan Utara), Diplomasi Ping-Pong 1971 (Amerika Serikat – China), Diplomasi Hoki 1972 (Canada – Uni Soviet), dan Diplomasi Kriket 2011 (India – Pakistan). Faktanya, olahraga menjadi kekuatan politik para aktor baik nasional maupun internasional dalam mempengaruhi pola hubungan internasional. Khususnya, diplomasi olahraga yang telah dilakukan Indonesia, seperti Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta dengan tujuan menaikkan wibawa Indonesia di panggung dunia serta meraih prestasi olahraga yang membanggakan mencapai peringkat ke-4, dan Asian Games tahun 2018 di Jakarta dan Palembang yang memiliki tujuan untuk menunjukkan keanekaragaman suku dan budaya Indonesia, meningkatkan kunjungan wisata ke Indonesia dan menarik investasi asing ke Indonesia. Tak terkecuali dengan diplomasi olahraga Indonesia Pasca Olympic Tokyo yang baru saja terjadi akhir-akhir ini yaitu, PON XX dan Peparnas VI tahun 2021 yang secara langsung telah menunjukan kepada dunia bahwa Papua mampu menyelenggarakan acara olahraga dengan aman, lancar, dan sukses. 

Setelah setiap pembicara memberikan penjelasan nya, agenda selanjutnya adalah sesi tanya jawab yang dipimpin oleh moderator, dan penonton diberi kesempatan untuk bertanya langsung. Beberapa diantaranya ada pertanyaan yang diajukan oleh Satrio Santoso yang bertanya “Ada isu hangat yang sedang beredar saat ini mengenai mafia sepak bola Indonesia yang mengancam kita Indonesia, Liga 1 dan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia). Jika memang terbukti bahwa kasus suap/match fixing kembali di Indonesia. Kira-kira apa dampak yang akan terjadi kepada image branding Indonesia dalam diplomasi olahraga. Selain itu, apakah ada langkah konkret yang sebaiknya dilakukan oleh Indonesia mengenai hal ini?” tanyanya. 

Kemudian, Pak Jadi menjawab “Terkait sepak bola saya kira sudah ada indornisasinya ya, selain itu ada juga FIFA yang mengaturnya, tapi kita berharap bahwa PSSI yang mengetahui ini bisa diplomasi kepada setiap pertanyaan yang diajukan Indonesia, jangan sampai nanti FIFA memberikan punishment terhadap Indonesia. Karena, NOC selalu sifatnya menunggu dan tidak terlalu mencampuri urusan internal suatu cabang olahraga tapi manakala kita (NOC) diminta, kita siap. Tapi kita sarankan agar PSSI sebagai cabang olahraga sepakbola harus bisa mengantisipasi segala kemungkinan agar tidak dikenakan sanksi” ucapnya. 

Setelah itu,  dilanjutkan oleh Pak Lukman yang menjawab “Kembali yang telah dipaparkan tadi, semua pelaku olahraga itu memiliki nilai-nilai luhur. Diantaranya adalah fair play, kemudian respect dan masih banyak lagi. Kami tentunya tidak ingin hal ini terjadi, karena sesungguhnya olahraga itu intinya adalah supportive, fair play, dan hal-hal yang merugikan itu tidak dibenarkan dan kami yakin isu mengenai match fixing juga tidak sepenuhnya benar. Saya yakin hal ini sudah ditangani oleh PSSI sebagai induk dari organisasi inti sepak bola, karena kami mengetahui sudah ada komitmen bersama untuk memerangi hal-hal yang tidak terpuji” ucapnya.

Tidak hanya dari publik, muncul juga pertanyaan yang diajukan oleh salah satu perwakilan anggota FPCI Chapter Binus yaitu Belinda Nur Fadilah yang bertanya “Kalau untuk pengembangan skill atlet di Indonesia, sekiranya apa yang masih perlu dicapai atau mungkin strategi-strategi yang masih perlu diperhatikan oleh pemerintah agar lebih meningkatkan mungkin jumlah atlet Indonesia dan juga skill yang mereka miliki?” tanyanya. Untuk menanggapinya, Pak Ade menjawab terlebih dahulu “Dari paparan saya dan Pak Jadi sudah melihat ada target-target yang ingin dicapai. Dari KONI Pusat sudah memiliki 10 pilar rencana mulai tahun 2021-2036, banyak sekali yang perlu kita perlu dibenahi di Indonesia atau kita kembangkan.   Misalnya arah kebijakan dari pada Undang-Undang Sistem olahraga nasional yang kita sama-sama ketahui saat ini sedang dalam proses untuk revisi Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional, dimana di Indonesia ini ada banyak olahraga prestasi, rekreasi,dan pendidikan” ucapnya. 

Melalui diskusi ini, dapat disimpulkan bahwa Olimpiade adalah sebuah ajang acara internasional terbesar yang mempertandingkan cabang-cabang olahraga musim panas dan musim dingin. Serta didalamnya mengandung nilai-nilai kemanusiaan, dan tercatat juga bahwa negara Indonesia sudah pernah melakukan beberapa diplomasi olahraga. Tidak hanya itu, pembicara juga berpesan bahwa olahraga memiliki dinamika yang sangat tinggi terlihat dengan munculnya banyak acara olahraga yang baru dan Indonesia saat ini memiliki kesempatan dengan bonus demografi dimana tidak banyak dimiliki oleh negara lain. Oleh karena itu, dari anak muda inilah memiliki kemampuan untuk mempengaruhi masa depan Indonesia menjadi Indonesia Emas. Jadi, janganlah takut untuk menjadi atlet karena anak muda harus memiliki dua kesuksesan yaitu sukses prestasi dan akademik. 

Fina Fu